Project Interview-Aditya Gumay(Sutradara)

•June 23, 2011 • Leave a Comment

 

LIST PERTANYAAN

Aditya Gumay

  • Saya : Bagaimana pemahaman IDE menurut mas gumay?
  • Mas gumay : Ide itu sebuah gagasan untuk menciptakan sesuatu, gagasan pun bisa di bagi menjadi 2 : gagasan buruk dan gagasan baik, tinggal bagaimana kitanya yang melakukan gagasan tersebut.
  • Saya : Bagaimana pemahaman arti KONSEP menurut mas gumay?
  • Mas gumay : Arti konsep menurut saya itu kata lain dari ide atau gagasan tapi konsep lebih mempunyai suatu rancangan yang lebih terperinci di banding Cuma sekedar mengomong tentang ide, konsep langkah ke 2 setelah mendapatkan ide dan menjabarkannya menjadi sebuah karya itulah konsep menurut saya. Sturktur untuk mewujudkan ide itu secara lebih terperinci.
  • Saya : Bagaimana cara atau strategi mas untuk mewujudkan IDE dan KONSEP di dalam setiap karya –karya mas?
  •  Mas gumay : Kalau cara saya dalam mewujudkan gagasan atau ide yang pasti di mulai dulu kita melakukan ini untuk apa..? untuk tingkatan kecil seperti di mall atau pun tingkatan besar tergantung dari kapasitasnya. Kalau untuk tingkatan kecil beberapa kali latihan bisa langsung tampil tapi bila tingkatan besar du butuhkan waktu yang lama dalam berlatih, tapi bagi saya pribadi semua itu harus di lakukan secara sungguh-sungguh dan penuh keseriusan.
  • Saya : Bagaimanakah ukuran suatu IDE  dan KONSEP di anggap bernilai baik dan di lihat dari idealism dan bisnis?
  • Mas gumay : Yang bisa berjalan bersamaan artinya film itu secara karya bagus, kontennya bagus, kemasannya bagus,akusisi waktu shooting semua bagus, dan pesan moral yang di sampaikan bagus. Menurut saya yang ideal Laskar Pelangi  dia punya konten bagus,isi moralnya bagus, tentang semangat belajar dan sebagainya lalu secara bisnis dia tinggi juga hingga saat ini belum ada film indonesia yang bisa mengalahkan masukan laskar pelangi yang hampir 5 juta penonton.
  • Saya : Bagaimana pendapat mas gumay tentang dunia IDE dalam industry kreatif(dunia penciptaan) di Indonesia?
  • Mas gumay : Indonesia sekian banyaknya masyarakat saya rasa ti dak kurangnya ide, dari yang paling busuk idenya sampai ide yang cemerlang dan itu pun g kurang-kurang banget ko, tapi karena tekanan waktu bila kita ngejar setoran lama-lama kering ide nya.
  • Saya : Sejak kapan mas gumay berkecimpung dalam bidang perfilman?
  • Mas gumay : Dari SMP kelas satu saya sudah hobby menulis skenario, tapi kalaudi bilang mulai masuk dalam dunia film ya tahun 80an dengan membuat serial tv. Tapi kalau untuk pembuatan film saya mulai dari tahun 2003-2004 hingga sekarang.
  • Saya : Untuk sebuah konsep yang bermutu menurut mas gumay itu di lihat dari apanya?
  • Mas gumay : Konsep yang bermutu dilihat dari kontennya, kontennya itu bermanfaat tidak untuk orang dan menginspirasi tidak buat orang. Setelah masyarakat selesai menonton ada tidak yang mereka dapat? Atau bahkan menjadi sebuah inspirasi untuk penontonya ke arah yang lebih baik bukan yang lebih buruk tentunya. Seberapa mampu karya itu bisa menginspirasi para penikmatnya atau penontonnya.
  • Saya : Apa yang menjadi sebuah landasan penting dalam pembuatan karya ,idea tau konsep kreatif menurut mas gumay?
  • Mas gumay : Dalam hal ini yang di lihat adalah niat dan ide itu sendiri, tanggapan saya seperti ini kita bikin film yang di anggap baik sama film yang di anggap kurang baik (horor/seks asal-asalan)  bagi saya pribadi itu sama-sama keluar uang, sama-sama capek, sama-sama buang waktu tapi hasilnya bisa berbeda, seperti film yang esek-esek atau horor selesai di tonton y udah di buang masuk gudang tapi klo film yang di buat lebih bermutu bisa membawa kita jadi lebih baik bahkan bisa di pandang oleh dunia.
  • Saya : Menurut mas gumay apakah perfilman kita saat ini telah mati suri dan masyarakat lebih tertarik kpd film asing?
  • Mas gumay : Untuk mati suri pada perfilman kita menurut saya tidak juga karena kualitas dari film kita juga tidak kalah bagus dengan film asing dan untuk kuantitas film kita pun udah mendekati angka 100 produksi per tahun dan itu sudah cukup bagus sekali, untuk masyarakat lebih tertarik kepada film asing itu tergantung pada segmentasi penontonya kemana.
  • Saya : Adakah inovasi baru dalam hal tema yang di lakukan perfilman saat ini?
  • Mas gumay : Acuannya kita bisa lihat film “?” (hanung) film itu mengangkat tema pluralisme sesuatu yang dulu di anggap tabu untuk di bicarakan, suatu perbedaan agama,perbedaan etnis,unsur sara dan sebagainya dulu itu tidak boleh di angkat menjadi sebuah cerita karena pasti akan menyinggung banyak orang, dan hanung berani untuk mengangkatnya menjadi sebuah film “?”menurut saya itu menjadi tema baru

KESIMPULAN

 

Dari isi wawancara yang saya dapat simpulkan tentang sebuah konsep dan ide yang sebenarnya kita pun bisa memiliki ide yang kreatif dan menarik untuk khalayak atau di perlihatkan, dan pada dunia perfilman kita saat ini bisa di katakan mati suri tapi bisa juga bisa di katakan tidak mati suri karena jumlah film yang ada dalam satu tahun belakangan ini cukup baik hampir 100 judul lahir dari tangan kreatif anak bangsa, tetapi mati suri di sini di katakan film yang beredar lebih banyak mendominasi film yang tidak bermutu di bandingkan dengan film yang bermutu. Dari hal ini seorang Aditya Gumay pun berbicara tentang keringnya konsep dan ide para kreator muda kita karena banyak yang hanya mencari keuntungan semata atau komersial. Jadi, mari lanjutkan perjuangan untuk menciptakan ide dan konsep yang menarik dan bermutu, tunjukkan kepa bangsa sebuah kreatifitas yang kita punya dan pantas di pandang oleh dunia.

SHORT MOVIE INDONESIA

•March 12, 2011 • Leave a Comment

Terimakasih sebelumnya kepada Dosen SITI NURASYIYAH. M.Si (BU AIS) yang telah membimbing saya dari segala tugas dan kinerja yang telah di berikan, dari sinilah saya bisa mengenal lebih jauh mengenai teknik-teknik yang pernah di ajarkan. oleh karena itu Blog ini saya buat untuk memenuhi syarat kelulusan dari mata kuliah Naskah Non Berita yang di ajarkannya.

Dari tugas ini saya menganalisis tentang Short Movie (Film Pendek) dalam Negeri karya anak Bangsa yang menjadi bahan tugas analisi saya.

SHORT MOVIE-The Most Beautifull Indonesia

Judul : THE MOST BEAUTIFUL INDONESIA

Durasi : 09:45

Produksi : Satu Mata Studio

Ide Cerita : – Semangat Perjuangan Pahlawan Indonesia –

Film pendek ini menceritakan tentang semangat dan keindahan dari Negara Indonesia yang sangat megah nan menawan, kita sebagai bangasa Indonesia seharusnya bias bangga akan kekayaan yang di miliki oleh bangsa kita.Semangat serta jiwa nasionalis kita kepada Negara harus di tegakkan untuk menjaga nama baik Negara kita Indonesia yang kita cinta.

Sinopsis : Cerita ini sebuah ilustrasi dari semangat perjuangan seorang pejuang yang membela Tanah Air, dimana seorang pejuang yang tangguh dan pantang menyerah untuk membela Tanah Air tercintanya, segala halang rintangan di lewati demi meraih bendera sangsaka Merah Putih dan di kibarkan dengan semangat yang membara demi sebuah “KEMERDEKAAN”.

konsep : flashback, dan  ilustrasi dalam bentuk visual yang sesuai dengan semangat para Pejuang Tanah Air Indonesia.

Setting : Pemukiman yang tidak ada penduduk dan menuju puncak bukit.

Karakter Pemain : Seorang pemuda yang meraih bendera Merah Putih dengan penuh semangat.

Artistik : Dari cerita ini sangat bagus isi pesan yang di sampikan dan di ceritakan kepada masyarakat untuk tetap semangat meraih Kemerdekaan, dengan berlarinya seorang anak muda yang penuh dengan semangat untuk meraih bendera Merah Putih di puncak bukit memberikan arti khusus bagi penontonnya.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah.

Audio :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Back sound : Dewa 19 (perempuan paling cantik di negeriku Indonesia)

Lighting :

  • Penerapan lighting ( pencahayaan) di sini menggunakan pencahayaan alami (natural) dan sedikit menggunakan pencahayaan buatan(artificial).

Editing :

  • Proses editing di sini sangat bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik dan tidak membosankan.
  • Pembukaan dari film pendek ini sangat bagu menggunkan motion grafis yang di kerjakan menggunakan software After Effect.
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping nya.
  • Di akhir cerita juga sangat bagus mengambil gambar dan memanfaatkan keadaan (alami).

Sumber : http://www.storylab.co.cc/

SHORT MOVIE-Red White Djakarta Djogja

Judul : MERAH PUTIH DJAKARTA DJOGJA

Durasi : 09:58

Produksi : Rt 15 – djogja

Ide Cerita : -  jiwa pemuda Indonesia yang sejati. Inilah pribadi kita, ciri kita, nasionalisme kita, jiwa kita dan budaya kita. -

Sinopsis : Cerita ini sebuah ilustrasi dari saat-saat pembuatan bendera Merah Putih dan yang di cari oleh Belanda untuk merusaknya, serta semangat perjuangan seorang pemuda yang membela Tanah Air, dimana seorang pejuang yang tangguh dan pantang menyerah untuk membela Tanah Air tercintanya.

konsep : flashback, dan  ilustrasi para pemain pada saat perjuangan Indonesia meraih Kemerdekaan.

Setting : Pemukiman asli pedesaan.

Karakter Pemain : Seorang pemuda yang di perintahkan Presiden Soekarno (saat itu) untuk menyerahkan bendera kepada Ibu Fatmawati.

Artistik : Dari cerita ini sangat pesan yang di sampaikan cukup menarik tapi sayang dari sebagian cerita keluar dari alur cerita yang semestinya di sampaikan.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah.

Audio :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Back sound : Dewa 19 (perempuan paling cantik di negeriku Indonesia)

Lighting :

  • Penerapan lighting ( pencahayaan) di sini menggunakan pencahayaan alami (natural) dan sedikit menggunakan pencahayaan buatan(artificial).

Editing :

  • Proses editing di sini sangat bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik.
  • Kualitas video rendering kurang bagus, mungkin karena melewati beberapa tahap convert membuat kualitas gambar menjadi menurun dan kurang jelas untuk di saksikan .
  • Pembukaan dari film pendek ini kurang menarik karena hanya menggunakan efek biasa.
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping nya.

SHORT MOVIE – SATU JAM SAJA (SAHABAT)

Judul : SATU JAM SAJA (SAHABAT)

Durasi : 04:46

Produksi : SMALIX Picture

Ide Cerita : – Persahabatan -

Sinopsis : film ini menceritakan tentang ujian tengah semester membuat dan membacakan puisi.sewaktu SMA dulu merupakan moment berharga.hingga saat ini kami bersahabt merasakan disayang dan di perhatikan oleh teman sangat jarang sekali terjadi moment satu jam saja membuat kami menemukannya

Konsep film: pendek satu jam saja berdurasi 4:45 menit,konsepnya sangat menarik dan sederhana sekali,walau bahasa visualnya susah di mengerti.

Setting : zaman dulu

Karakter Pemain :

  • Banyak segi artistik yang saya sukai dari film.pencahyaannya kurang bagus dan setting sperti pengambilan gambar adegan awal cerita dan akhir cerita,selalu ada ada catatan yang mengingatkan.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah.

Audio :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

Lighting :

  • Pencahayaan yang di lakukan dengan menggunakan cahaya alami tapi di kemas dengan efek model tempo dulu.

Editing :

  • Proses editing di sini sangat bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik.
  • Kualitas video rendering kurang bagus, mungkin karena melewati beberapa tahap convert membuat kualitas gambar menjadi menurun dan kurang jelas untuk di saksikan .
  • Pembukaan dari film pendek ini kurang menarik karena hanya menggunakan efek biasa.
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping nya.

TAHUN TANPA TUHAN

Judul :TAHUN TANPA TUHAN

Durasi :07:29

Produksi : Supiga Art

Ide Cerita : Menceritakan tentang seorang anak yang berjuang mencari uang untuk kesembuhan ibunda nya.

Sinopsis : Menceritakan kisah perjuangan seorang anak yang mencari uang untuk kesembuhan ibunda yang sedang sakit, setelah mendapatkan uang yang di harapkan ternyata uang tersebut di rampok di jalan saat perjalanan menuju pulang, akhirnya agus pun meninggal setelah kejadian itu dan ibunda agus pun meninggal setelah 1 bulan kepergian agus.

Setting : Perkampungan

Karakter Pemain : Pemuda yang baik hati dan patuh terhadap orang tua, penuh semangat untuk mendapatkan yang di harapkan.

Artistik :Isi pesan dari cerita yang di sampaikan sangat mendalam akan hal perjuangan untuk kesembuhan ibunda tercinta dan segala cara yang di tempuh untuk mendapatkan hal tersebut tapi sayang tuhan berkata lain.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah.

Audio :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

Lighting :

  • Pencahayaan yang di lakukan secara natural dan sebenarnya.

Editing :

  • Proses editing di sini sangat bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik.
  • Kualitas video rendering cukup bagus, mungkin karena melewati beberapa tahap convert membuat kualitas gambar menjadi baik dan jadi jelas untuk di saksikan .
  • Pembukaan dari film pendek ini cukup menarik karena  menggunakan efek .
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping nya.

MERAH PUTIH VS FACEBOOK

Judul : MERAH PUTIH VS FACEBOOK

Durasi : 09:45

Produksi : GNP (Gaxniat Production)

Ide Cerita : Film ini menceritakan tentang seorang pemuda lebih mengutamakan dunia maya (facebook) di banding kan dengan kewajiban nya.

Sinopsis : Seorang pemuda yang lebih mementingkan menembak atau menyatakan cintanyamelalui di dunia maya (facebook) jejaring sosial di bangdingkan kewajibannya yang menjadi seorang pengibar bendera dan pada akhirnya dia terlambat gara-gara dia online sampai pagi. penyesalan yang di rasakan sangat mendalam dan sangat sedih karena lebih mementingkan itu semua di bandingkan menjadi pengibar bendera.

konsep : Tentang keteledoran seorang pemuda karena ingin mendapatkan wanita impiannya, tapinyatanya tidak seperti yang dia inginkan.

Setting : Rumah dan sekolah

Karakter Pemain : Seorang pemuda yang tidak dapat bertanggung jawab atas kewajibanya.

Artistik : Cerita yang di sampaikan lebih mengena karena lebih mementingkan sesutau yang tidak penting (facebook)

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah.

Audio :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

Lighting :

  • Pencahayaan cukup bagus karena di genakan lighting yang lumayan baik

Editing :

  • Proses editing di sini sangat bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik.
  • Kualitas video rendering kurang bagus, mungkin karena melewati beberapa tahap convert membuat kualitas gambar menjadi menurun dan kurang jelas untuk di saksikan .
  • Pembukaan dari film pendek ini kurang menarik karena hanya menggunakan efek biasa.
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping nya.

SEMANGAT INDONESIA( The Spirit Of Indonesia )

Judul : SEMANGAT INDONESIA

Durasi : 03:52

Ide Cerita : Menceritakan tentang keinginan seorang anak untuk merias sepeda dalam perlombaan .

Sinopsis : Seorang anak yang menginginkan sepeda untuk di hias tapi sayang untuk dana tidak dapat mencukupi, tapi dengan ide yang dia punya dan dapat menjadikan sepeda yang ia inginkan menjadi lebih bagus walaupun hanya menggunakan poyongan bangu yang lusuh.

konsep : Semangat seorang anak Indonesia dalam mencapai sebuah tujuan.

Setting : Pedalaman dari pedesaan.

Karakter Pemain : Seorang anak yang memiliki semangat untuk mendapatkan sesuatu yang di impikannya.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah.

Audio :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

Lighting : Lebih banyak menggunakan pencahayaan alami atau natural, sehingga menjadi lebih alami

Editing :

  • Proses editing di sini sangat bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik.
  • Kualitas video rendering kurang bagus, mungkin karena melewati beberapa tahap convert membuat kualitas gambar menjadi menurun dan kurang jelas untuk di saksikan .
  • Pembukaan dari film pendek ini kurang menarik karena hanya menggunakan efek biasa.
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping nya
  • Dari segi pengambilan gambar dan editingnya membuat penonton nyaman untuk menontonnya.

SHORT MOVIE – GO INDO !

Judul : GO INDO !

Durasi : 08:55

Ide Cerita : Tentang warga indonesia yang tinggal di luar negeri yang memipikan perbedaan suasana dari Indonesia

Sinopsis : Seorang anak muda yang tinggal di luar negeri dan mengharpkan perbedaan dari suasana di Indonesia tapi nyatanya tetap saja merasakan seperti berada di indonesia karena ternyata kecintaannya warga indonesia di luar negri tetap bekobar meski ridak berada di negara tercintanya.

konsep : Tentang kehidupan warga indonesia di luar negeri

Setting : Luar negeri

Karakter Pemain : Seorang anak muda yang bosan akan suasana di negerinya (indonesia) dan dia ingin mendapatkan suasana baru.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah

Gerakan Kamera:

  • Follow
  • feding
  • crenshot

Audio :

  • Voice over : percakapan pemain
  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

Lighting :

  • Pencahayaan yang dilakukan dengan alami atau natural

Editing :

  • Proses editing di sini cukup bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik.
  • Kualitas video rendering  bagus, karena melewati beberapa tahap membuat kualitas gambar menjadi cukup bagus untuk di saksikan .
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping nya

SHORT MOVIE – NGENTENI BIS

Judul : NGENTENI BIS

Durasi : 05:01

Ide Cerita : Menunggu bis

Sinopsis : Suatu tempat yang fungsinya untuk menunggu bis dan terdapat orang-orang yang menjajakan barang dagangannya.seorang sedang menunggu bis dan di tawarkannya koran dan gorengan oleh pedagang yang sedang berjualan di halte tersebut dan tidak hanya pedagang pengamen pun ada di tempat tersebut. ternyata pada saat bis itu datang si penumpan,pengamen dan tukang koran berebutan untuk naik bis, karena berebut naik bis itu pun langsung berjalan meninggalkan para penumpangnya.

konsep : bersabarlah dan antri lebih baik.

Setting : Halte bis

Karakter Pemain : Penumpang yang sabar menunggu bis.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah

Gerakan Kamera:

  • Follow
  • feding
  • Pen left
  • stay

Audio :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

Lighting :

  • Pencahayaan yang dilakukan dengan alami atau natural

Editing :

  • Proses editing di sini cukup bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik.
  • Kualitas video rendering kurang bagus, karena melewati beberapa tahap membuat kualitas gambar menjadi kurang bagus untuk di saksikan .
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping.
  • Editan untuk menggambarkan pintu bis cukup kretif tapi sayang kenapa bis itu jalannya tidak stabil.

SHORT MOVIE – UNTUK SEBUAH HAMBURGER

Judul : UNTUK SEBUAH HAMBURGER

Durasi :04:55

Ide Cerita : Ingin makan hamburger

Sinopsis : Suatu hari anak penjual koran melihat brosur tentang hamburger dan anak ini sangat menginginkan memakan hamburger yang dia lihat. saat dia menjajakan koran yang dia jual di jalan dia menemukan dompet seorang bapak dan sempet melihat isi dari dompet tersebut dan ingin di belikannya hamburger dari uang tersebut, tapi karena dia ingin sebuah kejujuran dari kepolosan seorang anak akhirnya dia mengembalikan dompet tersebut dan di kasih inbalan dengan hamburger itu.

konsep : kejujuran lebih penting untuk mendapatkan sesuatu yang halal dan Tuhan akan mengabulkan doa setiap hambaNya yang jujur.

Setting : Jalan raya,rumah kumuh

Karakter Pemain : Penumpang yang sabar menunggu bis.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)
  • Sequen (potongan gambar yang berkaitan)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah

Gerakan Kamera:

  • Follow
  • feding
  • Pen left
  • clope up
  • stay

Audio :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Backsound : Instrumant

Lighting :

  • Pencahayaan yang dilakukan dengan alami atau natural
  • pencahayaan tetap menggunakan lighting yang rendah

Editing :

  • Proses editing di sini cukup bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik.
  • Kualitas video rendering kurang bagus, karena melewati beberapa tahap membuat kualitas gambar menjadi kurang bagus untuk di saksikan .
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik .

SHORT MOVIE – CALON MAHASISWA UDIK

Judul : CALON MAHASISWA UDIK

Durasi : 03:49

Ide Cerita : Masih adakan sebuah perbedaan

Sinopsis : Seorang wanita yang berasal dari kampung mencari ilmu di kota besar jakarta, saat mendaftarkan diri pada suatu Universita dia mencari tahu apakah dia lulus di Universitas tersebut, saat bertanya dengan sekumpulan orang perempuan di kampus itu dia di lecehkan dengan sindiran . akhirnya dia mencoba mencari tahu di mading pengumuman kampus, melihat daftar nama mahasiswa yang lulus ternyata namanya tidak ada dan dia pun sedih menangis,rasa penasaran mengapa nama dia tidak ada dia pun melihat lagi dan ternyata ada pengumuman baru, pas dilihat terdapat nama dia di salah satu nomor urut dan berteriak kegirangan.

konsep : kejujuran lebih penting untuk mendapatkan sesuatu yang halal

Setting :Kampus

Karakter Pemain : Seorang mahasiswa baru dari kampung yang udik dan polos.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah
  • . Angel eyes.

Gerakan Kamera:

  • Follow
  • feding
  • Pen left
  • stay
  • Tracking

Audio :

  • Percakapan pemain,natural sound
  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

Lighting :

  • Pencahayaan yang dilakukan dengan alami
  • Pencahayaan yang dilakukan dengan buatan

Editing :

  • Proses editing di sini kurang menarik dan menghasilkan gambar yang kurang menarik.
  • Kualitas video rendering kurang bagus, karena melewati beberapa tahap membuat kualitas gambar menjadi kurang bagus untuk di saksikan .
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping.
  • Gambar yang di sajikan sangat tidak nyaman untuk di saksikan.

SHORT MOVIE – Masih belajar

Judul              : MASIH BELAJAR

Durasi             :02:10

Ide Cerita       : Sindiran Demokrasi Bangsa Indonesia

ide    : Ide cerita ini di angkat untuk sindiran para anggota pemerintah dan warga masyarakat Indonesia yang masih kurang mengerti arti dari Demokrasi, oleh karena itu di angkatnya sebuah cerita pendek yang menyinggung kepada seluruh anggota pemerintah dan masyarakat yang tidak mengerti arti demokrasi.

konsep :  konsep film ini sangat menarik karena jalan cerita yang di sajikan sangat mengena dan tepat sasaran, untuk di tontonnya pun tidak membosankan bahkan isi dari cerita yang di sampikannya pun sangat tepat dan lebih seperti kesehariannya atau kenyataannya dari kehidupan.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot à diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot à ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot à seluruh badan.
  • · Extreme close up à Spesifik; mata, mulut

AUDIO :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Narration : Off screen narrator à  (tidak terlihat)
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

EDITING :

  • kualitas gambar yang menurut ketika render
  • kurang pencahayaan

SHORT MOVIE – Gadis diruang tunggu

Judul              : GADIS DI RUANG TUNGGU

Durasi             : 08:00

Ide Cerita       : Ide cerita ini menceritakan tentang kelu-kesa seorang pengusaha dengan rutinitasnya, namun ia tersadar ketika melihat seorang gadis yang rela menukar nomor antriannya.

PLOT :  Bercerita tentang permasalahan ke hidupan

KONSEP : konsep dari film ini menggambarkan rutinitas yang sangat lumrah, namun pengemasan dari ide yang menampilkan seorang gadis cantik sedang menunggu di ruang tunggu dan ternyata mengalami permalalahan yang ternyata lebih berat menjadi unsur pesan dalam film ini..

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot à diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot à ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot à seluruh badan.

AUDIO :

  • Off screen Filter slight : suara adegan percakapan telpon tidak nampak
  • Diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

EDITING ;

  • Pemakaian latar layar  dengan format widescreen membuat film ini terlihat eperti film – film layar lebar.

SHORT MOVIE – Cerita singkat

Judul              : CERITA SINGKAT

Durasi             :09:51

Ide Cerita       : ide dalam film ini adalah mengangkat tentang kebahagian keluarga kelak memberikan motivasi tersendiri dalam hidup, dengan di kemasan secara dramatisasi, memberikan tontonan ini seperti kehidupan nyata.

konsep :  konsep video ini sedikit monoton mungkin di karna dari kekuatan talant yang kaku, turunnya kualitas gambar yang menjadikan film bosan untuk di tonton.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot à diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot à ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot à seluruh badan.
  • · Extreme close up à Spesifik; mata, mulut

AUDIO :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Narration : Off screen narrator à  (tidak terlihat)
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

EDITING :

  • kualitas gambar yang menurut ketika render
  • kurang pencahayaan

SHORT MOVIE – Dipersimpangan

Judul              : DI PERSIMPANGAN

Durasi             :09:10

Ide Cerita       : Belajarlah jujur sejak dini

SINOPSIS : ide cerita dari film di persimpangan adalah suatu ide yang menceritakan suatu kejujuran dan kepercayaan.dimana seorang mahasiswa yang ingin mencalonkan ketua presma.sebelum menjadi ketua presma orang ini memperlihatkan sikap yang tidak jujur lewat sebuah rokok, hal yang sangat kecil (rokok) saja orang ini tidak bisa jujur apalagi dalan hal yang lebih besar (materi) bias-bisa…….??? Pasti tau kesimpulannya kan…???

KONSEP :  Konsep ini sangat sederhana sekali,namun mampu menyampaikan sebuah pesan yang sangat baik,pesan tersebut menjadikan kpribadian diri kita dimana kepercayaan dan kejujuran itu sangat penting sekali

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Gerakan Kamera

  • Follow to objek
  • crane shot

Komposisi gambar

  • medium shot
  • medium close-up
  • knee shoot
  • extrem long shot

Audio

  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Off screen diegetic : suara dari lokasi adegan namun tidak tampak

Editing

  • Kualitas video rendering yang tidak bagus dan melewati beberapa tahap convert membuat kualitas gambar menjadi menurun
  • Color correction (pewarnaan gambar dalam editing) di sesuaikan dengan adegan dan membuat pesan gambar lebih mudah di mengerti.
  • Pemakaian latar layar  dengan format widescreen membuat film ini terlihat seperti jaman dahulu.

SHORT MOVIE – Love story

Judul : LOVE STORY

Durasi :06:29

Ide Cerita : Semangat dan tetap Bersabar

SINOPSIS :

Film ini bercerita tentang imaginasi yang dikeluarkan oleh sebuah sepatu yang ada disebuah toko. Setiap pagi ada seorang wanita bernama tessa yang selalu melewati toko tempat sepatu itu berada. Sepatu itu ingin dimiliki olah tessa. Ia menanti – nanti tessa datag untuk membelinya dan membawanya beramanya.

Pada suatu hari tessa datang untuk membeli sepatu tersebut. Namun harus ditunda dulu karena dia ada keperluan mendadak. Sepatu itu menanti tessa untuk datang kembali dan membawanya. Namun setelah beberapa lama yang ditunggu – tunggu akhirnya muncullah tessa. Sepatu tersebut mengira bahwa tessa akan mampir ke toko untuk membelinya. Namun dari kejauhan sepatu tersebut melihat tessa dengan sepatu barunya. Sepatu tersebut merasa sedih dan terluka karena tessa jadi mengabaikannya.

konsep :  konsep video ini juga cukup menarik dan tidak terlalu monoton, namun banyak scene yang di ambil secara biasa membuat konsep ini jadi terlihat biasa, di tambah lagi diawal sampai di pertengahan film ini selalu di iringi dengan dubing dan narasinya tidak terlalu banyak,dengan narasi yang kurang mempunyai sound of character.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pergerakan kamera

  • follow to objek
  • panning
  • Zoom (in/out)
  • Over Shoulder

Komposisi gambar

  • Medium close-up
  • medium shot
  • extrem close-up
  • loong shot
  • extrem long shot

Audio :

  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Off screen diegetic : suara dari lokasi adegan namun tidak tampak

Editing

  • Color correction (pewarnaan gambar dalam editing) di sesuaikan dengan kehidupan nyata dan terlihat sangat natural

SHORT MOVIE – Basa basi pisang goreng

Judul : BASA BASI PISANG GORENG

Durasi :08:40

TEMA : Human resource, culture,&  Nature

IDE CERITA : Ide cerita dari film Basa – Basi pisang goreng adalah suatu ide yang  sangat brillian  yang di angkat berdasarkan culture dari suku jawa, indonesia. di mana adat gotong royong masyarakat pedesaan masih sangat lekat, selain itu suku jawa di kenal sebagi suku yang sangat santun dalam berikap dan sangat banyak basa- basi nya.

KONSEP : Konsep dari film ini mengangkat cerita ringan yang di angkat menjadi tontonan menyenangkan, dengan suatu adegan obrolan ringan yang di tawarkan menjadi tontonan yang menyenangkan

ARTISTIK :  Menonton film ini membawa kita bertamasya ke lingkungan pedesaan yang hangat dan sangat bersahabat , property dari mulai rumah sampai alas kaki semua di pikirkan, belum lagi setting lokasi dan pembangunan karakter masing2 talent sangat rasional dan mudah untuk di cerna,hal ini adalah peran besar dari artistik yang membuat cerita sederhana menjadi tontonan yang sangat menyenangkan dan tampak begitu nyata

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot à diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot à ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot à seluruh badan.
  • · Extreme close up à Spesifik; mata, mulut

AUDIO

· Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung

· Off screen diegetic : suara dari lokasi adegan namun tidak tampak

EDITING

  • Kualitas video rendering yang cukup bagus,
  • Color correction (pewarnaan gambar dalam editing) di sesuaikan dengan kehidupan nyata dan terlihat sangat natural
  • Pemakaian latar layar  dengan format widescreen membuat film ini terlihat eperti film – film layar lebar

SHORT MOVIE – SURAT DARI IBU

Judul : SURAT DARI IBU

Durasi :05:12

Ide Cerita : Curhatan seorang Ibu yang merasakan kesendiriannya

sinopsis : cerita ini adalah ilustrasi dari sebuah surat dari ibu kepada anak – anak nya yang di baca setelah mereka mudik lebaran ke rumah ibu dan ternyata sang ibu  telah tiada ,mereka  hanya menemukan sebuah surat berisi curahan hati seorang ibu.

konsep : flashback, dan  ilustrasi dalam bentuk visual yang sesuai dengan surat yang sedang di baca.

setting : mayarakat desa,  muslim  melayu  antara 1980 sampai  2008.

Karakter talent :

  • seorang ibu yang tinggal di desa dan 2 orang anak. (Sabar  Agamais & penyayang)
  • karakter anak perempuan seorang dokter yang sibuk (ambisi & smart)
  • dan anak lelaki photographer yang sibuk. (santai & kreatif)

Pemilihan latar  dan setting di dasari   masyarakat muslim melayu, yang dominan di negara malaysia, film ini adalah betuk kerja sama panti asuhan dengan kerajaan malaysia, maka pemilihan ide dan pesan yang di sampaikan pun berupa himbauan untuk menghargai orang tua, karena sebagian masyarakat banyak yang kehilangan orang tua lebih dulu, bahkan tidak mempunyai orang tua.

Artistik mempunyai peran penting dalam film ini, terlihat bagaimana keluarga muslim melayu di sebuah desa kecil bisa sangat kita rasakan, pada adegan illustrasi kedua anak berkumpul dengan sang ibu mengajarkan anak2 nya, lalu lewat lah sebuah kucing yang menggambarkan sebuah hunian yang sederhana, dan adegan illustrasi  sang ibu yang menjadi dokter mengobati luka anaknya menggunakan kain yg di robek  padahal kain tersebut sedang di pakainya.  selain itu juga mengambarkan kesuksean anak – anak nya emak pada  shoot awal film di dengan dua mobil mewah. dan yang paling mengesankan adalah bagaimana illustrasi corong dan gambar keluarga yang menggambarkan kedua anak emak yang memiliki cita-cita berbeda. corong mengilustrasikan cita – cita  menjadi dokter dan gambar mengilustrasikan cita menjadi photographer.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot à diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot à ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot à seluruh badan.
  • · Extreme close up à Spesifik; mata, mulut

AUDIO :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Filter slight : adegan percakapan telpon
  • Narration : Off screen narrator à  (tidak terlihat)
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Back sound : lagu malaysia

Lighting : komposisi pencahayan yang dinamis di padu dengan efek hitam putih, menimbulkan efek flashback . beberapa pencahayaan dalam adegan khusus sengaja di dekatkan & perlihatkan ke jendela Membuat timbul nuansa pencahayaan yang alami.

EDITING :

  • Kualitas video rendering yang cukup bagus, namun melewati beberapa tahap convert membuat kualitas gambar menjadi menurun .
  • Color correction (pewarnaan gambar dalam editing) di sesuaikan dengan adegan dan membuat pesan gambar lebih mudah di mengerti.
  • Pemakaian latar layar  dengan format widescreen membuat film ini terlihat eperti film – film layar lebar
  • Credit title pada akhir gambar  dengan background emak dan kedua anak nya sedang bermain di tanah lapang sangat terlihat natural dan elegan.

SHORT MOVIE – PESAN IBU

Judul : PESAN IBU

Durasi :08:36

Produksi : HOME MADE

Ide Cerita : Setiap perkataan ibu pasti memiliki makna tersendiri untuk anaknya.

konsep :  video ini menceritakan seorang ibu yang mengamanatkan anaknya untuk tidak bermain, melainkan menjaga rumah sekaligus menggatikan pekerjaan ibu nya yang belum selesai, namun si anak melanggar amanat dari ibu nya untuk bermain bola.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot à diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot à ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot à seluruh badan.
  • · Extreme close up à Spesifik; mata, mulut

AUDIO :

  • Diegetic sound : Suara berasal dari sumber saat adengan berlangsung

EDITING :

  • kualitas gambar yang menurut ketika render untuk format flv
  • kurang pencahayaan

SHORT MOVIE – URGENT

Judul : URGENT

Durasi :06:35

Produksi :

SINOPSIS  : Menceritakan sebuah perjanjian seperti halnya seorang mafia yang butuh akan suatu barang dan di kasih batas waktu untuk menaympaiknannya, tidak boleh lewat dari batas waktu yang di tentukan apabila lebih dari batas waktu tersebut maka dia akan mati, dan ternyata yang di bawanya hanyalah sebuah tusuk gigi.

IDE CERITA : Menceritakan sebuah mafia yang menuntut sebuah barang segera di kirim.

PLOT :  Bercerita tentang permasalahan gangster

KONSEP : konsep dari film ini menceritakan sebuah kehidupan para gangster yang merasa hebat serta merasa lebih kuat.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot  seluruh badan.
  • .Tracking yang bagus tidak goyang.
  • .knee shoot yang pas.

AUDIO :

  • Off screen Filter slight : suara adegan percakapan telpon tidak nampak
  • Diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

EDITING ;

  • Pemakaian latar layar  dengan format widescreen membuat film ini terlihat eperti film – film layar lebar.
  • Warna yang cukup membuat kesan seram dan sangar.

SHORT MOVIE – Sekolahku Rumahku (My School My Home)

Judul : SEKOLAHKU RUMAHKU

Durasi :01:33

Produksi : UNICEF

SINOPSIS  : Film ini menceritakan sebuah kisah nyata dari para anak-anak sekolah yang mengalami kurangnya biaya dan perhatian pemerintah kita, banyak anak yang terlantar dan tidak bias meneruskan sekolah lantaran biaya ekonomi yang tidak mendukung.

IDE CERITA : Menceritakan sebuah anak-anak yang putus sekolah lantaran biaya ekonomi yang kurang mendukung serta kurangnya perhatian pemerintah yang tidak ada.

PLOT :  Bercerita tentang permasalahan ekonomi masyarakat bawah.

KONSEP : konsep dari film ini menceritakan sebuah kehidupan para masyarakat yang kurang mampu dalam ekonomi keluarga sehingga tidak dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih baik.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot  seluruh badan.
  • .Tracking yang bagus tidak goyang.
  • .knee shoot yang pas.

AUDIO :

  • Off screen Filter slight : suara adegan percakapan telpon tidak nampak
  • Diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

EDITING ;

  • Pemakaian latar layar  dengan format widescreen membuat film ini terlihat eperti film – film layar lebar.
  • Warna yang cukup membuat kesan seram dan sangar.

SHORT MOVIE – Menunggu Jodoh

Judul : Menunggu Jodoh

Durasi :07:22

Produksi : Saraf

SINOPSIS  : Film ini menceritakan sebuah kisah tentang jodoh antara seorang wanita dengan sebuah sepatu yang selalu di lihatnya di toko yang sering di lewatinya dan sepatu itu mengharapkan sebuah pemilik yang mencintainya akan tetapi semua itu musnah ketika wanita itu sudah mendapatkan yang lainnya.

IDE CERITA : Menceritakan sebuah sepatu yang berharap untuk di beli oleh seorang wanita.

PLOT :  Bercerita tentang permasalahan selera.

KONSEP : konsep dari film ini menceritakan sebuah kehidupan antara benda mati dengan manusia yang berkeinginan untuk memilikinya.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot  seluruh badan.
  • .Tracking yang bagus tidak goyang.
  • .knee shoot yang pas.
  • Low angel

AUDIO :

  • Off screen Filter slight : suara adegan percakapan telpon tidak nampak
  • Diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

EDITING ;

  • Pemakaian latar layar  dengan format widescreen membuat film ini terlihat eperti film – film layar lebar.
  • Warna yang cukup membuat kesan soft dan menarik

SHORT MOVIE – Dua Masa

Judul : Dua Masa

Durasi :03:46

Produksi : Fakultas Film & Televisi IKJ

SINOPSIS  : Film ini menceritakan sebuah kisah kehidupan tentang seorang wanita yang di tinggal oleh seorang ayah tercintanya, dan sosok ayah itu di gantikan oleh orang lain yang malah membuat dia menjadi hancur dalam kehidupannya, kebencian itu telah membuatnya mengambil sebuah keputusan yang sangat fatal.

IDE CERITA : Menceritakan sebuah kisah kehidupan konflik dalam keluarga yang membuat hancur semua masa depan.

PLOT :  Bercerita tentang permasalahan antara masa lalu yang indah dan masa kini yang kejam.

KONSEP : konsep dari film ini sangat menyentuh dari segi cerita dan gambar pun sangat menarik untuk kita tonton, karena konsep yang ada menyampaikan pesan sangat berarti.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot  seluruh badan.
  • .Tracking yang bagus tidak goyang.
  • .knee shoot yang pas.
  • Low angel

AUDIO :

  • Off screen Filter slight : suara adegan percakapan telpon tidak nampak
  • Diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

EDITING ;

  • Pemakaian latar layar  dengan format widescreen membuat film ini terlihat eperti film – film layar lebar.
  • Warna yang cukup membuat kesan soft dan menarik

SHORT MOVIE – Detensi

Judul : Detensi

Durasi :08:25

Produksi : Gambar Darurat

SINOPSIS :

Film ini bercerita tentang imaginasi yang dikeluarkan oleh sebuah sepatu yang ada disebuah toko. Setiap pagi ada seorang wanita bernama tessa yang selalu melewati toko tempat sepatu itu berada. Sepatu itu ingin dimiliki olah tessa. Ia menanti – nanti tessa datag untuk membelinya dan membawanya beramanya.

Pada suatu hari tessa datang untuk membeli sepatu tersebut. Namun harus ditunda dulu karena dia ada keperluan mendadak. Sepatu itu menanti tessa untuk datang kembali dan membawanya. Namun setelah beberapa lama yang ditunggu – tunggu akhirnya muncullah tessa. Sepatu tersebut mengira bahwa tessa akan mampir ke toko untuk membelinya. Namun dari kejauhan sepatu tersebut melihat tessa dengan sepatu barunya. Sepatu tersebut merasa sedih dan terluka karena tessa jadi mengabaikannya.

konsep :  konsep video ini juga cukup menarik dan tidak terlalu monoton, namun banyak scene yang di ambil secara biasa membuat konsep ini jadi terlihat biasa, di tambah lagi diawal sampai di pertengahan film ini selalu di iringi dengan dubing dan narasinya tidak terlalu banyak,dengan narasi yang kurang mempunyai sound of character.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pergerakan kamera

  • follow to objek
  • panning
  • Zoom (in/out)
  • Over Shoulder

Komposisi gambar

  • Medium close-up
  • medium shot
  • extrem close-up
  • loong shot
  • extrem long shot

Audio :

  • Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Off screen diegetic : suara dari lokasi adegan namun tidak tampak

Editing

  • Color correction (pewarnaan gambar dalam editing) di sesuaikan dengan kehidupan nyata dan terlihat sangat natural

SHORT MOVIE – Belum Terlambat

sinopsis : cerita ini adalah ilustrasi dari sebuah surat dari ibu kepada anak – anak nya yang di baca setelah mereka mudik lebaran ke rumah ibu dan ternyata sang ibu  telah tiada ,mereka  hanya menemukan sebuah surat berisi curahan hati seorang ibu.

konsep : flashback, dan  ilustrasi dalam bentuk visual yang sesuai dengan surat yang sedang di baca.

setting : mayarakat desa,  muslim  melayu  antara 1980 sampai  2008.

sinopsis : cerita ini adalah ilustrasi dari sebuah surat dari ibu kepada anak – anak nya yang di baca setelah mereka mudik lebaran ke rumah ibu dan ternyata sang ibu  telah tiada ,mereka  hanya menemukan sebuah surat berisi curahan hati seorang ibu.

Karakter talent :

  • seorang ibu yang tinggal di desa dan 2 orang anak. (Sabar  Agamais & penyayang)
  • karakter anak perempuan seorang dokter yang sibuk (ambisi & smart)
  • dan anak lelaki photographer yang sibuk. (santai & kreatif)

Pemilihan latar  dan setting di dasari   masyarakat muslim melayu, yang dominan di negara malaysia, film ini adalah betuk kerja sama panti asuhan dengan kerajaan malaysia, maka pemilihan ide dan pesan yang di sampaikan pun berupa himbauan untuk menghargai orang tua, karena sebagian masyarakat banyak yang kehilangan orang tua lebih dulu, bahkan tidak mempunyai orang tua.

Artistik mempunyai peran penting dalam film ini, terlihat bagaimana keluarga muslim melayu di sebuah desa kecil bisa sangat kita rasakan, pada adegan illustrasi kedua anak berkumpul dengan sang ibu mengajarkan anak2 nya, lalu lewat lah sebuah kucing yang menggambarkan sebuah hunian yang sederhana, dan adegan illustrasi  sang ibu yang menjadi dokter mengobati luka anaknya menggunakan kain yg di robek  padahal kain tersebut sedang di pakainya.  selain itu juga mengambarkan kesuksean anak – anak nya emak pada  shoot awal film di dengan dua mobil mewah. dan yang paling mengesankan adalah bagaimana illustrasi corong dan gambar keluarga yang menggambarkan kedua anak emak yang memiliki cita-cita berbeda. corong mengilustrasikan cita – cita  menjadi dokter dan gambar mengilustrasikan cita menjadi photographer.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot à diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot à ¾ objek : lutut ke atas
  • · Full shot à seluruh badan.
  • · Extreme close up à Spesifik; mata, mulut

AUDIO :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Filter slight : adegan percakapan telpon
  • Narration : Off screen narrator à  (tidak terlihat)
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Back sound : lagu malaysia

Lighting : komposisi pencahayan yang dinamis di padu dengan efek hitam putih, menimbulkan efek flashback . beberapa pencahayaan dalam adegan khusus sengaja di dekatkan & perlihatkan ke jendela Membuat timbul nuansa pencahayaan yang alami.

EDITING :

  • Kualitas video rendering yang cukup bagus, namun melewati beberapa tahap convert membuat kualitas gambar menjadi menurun .
  • Color correction (pewarnaan gambar dalam editing) di sesuaikan dengan adegan dan membuat pesan gambar lebih mudah di mengerti.
  • Pemakaian latar layar  dengan format widescreen membuat film ini terlihat eperti film – film layar lebar
  • Credit title pada akhir gambar  dengan background emak dan kedua anak nya sedang bermain di tanah lapang sangat terlihat natural dan elegan.

SHORT MOVIE – Harap Tenang ada Ujian

Judul : Harap Tenang ada Ujian

Durasi : 02:58

Produksi :

Ide Cerita : – Semangat Perjuangan Pahlawan Indonesia –

Film pendek ini menceritakan tentang semangat dan keindahan dari Negara Indonesia yang sangat megah nan menawan, kita sebagai bangasa Indonesia seharusnya bias bangga akan kekayaan yang di miliki oleh bangsa kita.Semangat serta jiwa nasionalis kita kepada Negara harus di tegakkan untuk menjaga nama baik Negara kita Indonesia yang kita cinta.

Sinopsis : Cerita ini sebuah ilustrasi dari semangat perjuangan seorang pejuang yang membela Tanah Air, dimana seorang pejuang yang tangguh dan pantang menyerah untuk membela Tanah Air tercintanya, segala halang rintangan di lewati demi meraih bendera sangsaka Merah Putih dan di kibarkan dengan semangat yang membara demi sebuah “KEMERDEKAAN”.

konsep : flashback, dan  ilustrasi dalam bentuk visual yang sesuai dengan semangat para Pejuang Tanah Air Indonesia.

Setting : Pemukiman yang tidak ada penduduk dan menuju puncak bukit.

Karakter Pemain : Seorang pemuda yang meraih bendera Merah Putih dengan penuh semangat.

Artistik : Dari cerita ini sangat bagus isi pesan yang di sampikan dan di ceritakan kepada masyarakat untuk tetap semangat meraih Kemerdekaan, dengan berlarinya seorang anak muda yang penuh dengan semangat untuk meraih bendera Merah Putih di puncak bukit memberikan arti khusus bagi penontonnya.

Jenis Pengambilan gambar  dalam film ini

  • The deskriptif Sintagma (urutan menggambarkan satu saat).
  • The bracketing syntagm (montage of brief shots)
  • The Sintagma (dua sekuens bergantian)
  • The paralel Sintagma (montase dari motif)

Pengambilan gambar konvensional (size shoot ):

  • · Long shot  diambil penuh, diberi sedikit space kosong
  • · Medium full shot  ¾ objek
  • · Full shot seluruh badan.
  • · Extreme close up Spesifik; mata, mulut, tangan, wajah.

Audio :

  • Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir
  • Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung
  • Back sound : Dewa 19 (perempuan paling cantik di negeriku Indonesia)

Lighting :

  • Penerapan lighting ( pencahayaan) di sini menggunakan pencahayaan alami (natural) dan sedikit menggunakan pencahayaan buatan(artificial).

Editing :

  • Proses editing di sini sangat bagus dan cukup menghasilkan gambar yang menarik dan tidak membosankan.
  • Pembukaan dari film pendek ini sangat bagu menggunkan motion grafis yang di kerjakan menggunakan software After Effect.
  • Perpindahan gambar ( cut to cut ) sangat baik dan sedikit jumping nya.
  • Di akhir cerita juga sangat bagus mengambil gambar dan memanfaatkan keadaan (alami).

https://asiarbarieffachriananda34.files.wordpress.com/2011/03/aditya-gumay-riph.jp

Hello world!

•March 5, 2011 • 1 Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.